Langsung ke konten utama

Ego

Ada yang bilang “Jika engkau kehilangan sesuatu, maka pasti gantinya akan lebih baik.” Dan saya cuma ingin menyatakan bahwa kutipan tersebut benar adanya dan terbukti. 

Tulisan ini pembuka untuk bagian pertama tulisan amburadul saya. Kutipan tersebut merupakan inti dari bagian-bagian selanjutnya (ini hanya pembuka, kutipan tadi hanya berhubungan sedikit).

Agak panas suhu kamar membuat diri ini malas untuk membuka laptop dan menulis sesuatu yang tertahan dalam kepala. Sudah 3 hari tak ada tulisan dalam blog saya yang satunya. 

Yah, bukan karena malas atau apa, tapi memang sedang disibukkan dengan beberapa kegiatan. Satunya Alhamdulillah sukses, yang satu lagi… dahlah, padahal sudah siap dan rapi buat berangkat seminar magang. Eh, malah diundur. 

Yah, meski ada untungnya karena saya dan kawan saya salah pilih tempat buat zoom. Warung yang berisik mengganggu sekali. 

Dihadapkan pada 2 kegiatan dalam satu waktu. Membuat bingung harus memprioritaskan yang mana, masalahnya kedua kegiatan ini sudah disiapkan dari lama. 

Saya berusaha untuk menjalani kedua kegiatan dengan maksimal dan sebaik mungkin. Namun, masih saja ada yang menganggap saya egois dan mementingkan yang satunya.

Jadi gini ya kawanku yang apatis, kebetulan 2 acara ini merupakan aspek penting ketika menjadi mahasiswa. Yang satu mengenai tugas kuliah, yaitu perkuliahan yang mencakup bagaimana menjalani hari dengan bertemu kawan, dosen, layar laptop (kalau online), kelas yang ber-AC (tapi rusak), dan geprek kantin yang cukup mahal saat jam istirahat. 

Dan satunya lagi adalah kegiatan berorganisasi dalam lingkup kampus. Yang tak didapat setiap mahasiswa, meski mereka semua berhak dan seharusnya wajib mengikuti. 

Keduanya penting, memang kalau disuruh untuk memilih kebanyakan pasti lebih memprioritaskan kuliah daripada berorganisasi. Ya iyalah, UKT mahal-mahal tapi malah ga dimanfaatin. 

Apalagi UKT murah, harusnya malu kalau ga serius kuliah. Kebetulan UKT saya tak terlalu mahal, dan untuk memaksimalkan hal tersebut agar diri ini tak hanya mendapat ilmu dari bangku perkuliahan saja, mengikuti organisasi ternyata sebuah pilihan yang akhir-akhir ini saya rasa sangat tepat (dulunya cuma iseng soalnya).

Tak hanya relasi, pengalaman, serta tempat baru yang tak pernah terjamah. Hal atau poin terpenting yang saya dapat adalah sebuah ilmu baru yang memang tak akan pernah didapat di dalam kelas atau ruang perkuliahan. 

Teori tanpa aksi tak cukup, berdoa tanpa usaha tak sempurna, dan duduk dikelas mengikuti perkuliahan sambil ngantuk dan ikut organisasi cuma biar dapat jaket atau pdh juga sangat-sangat tak pantas! Bercermin pada diri sendiri, beberapa tulisan tadi juga sebagai bentuk kritik saya dulu waktu MTs yang malas mengikuti organisasi, bukan karena malas sih, cuma kecewa saja karena ga kepilih Osis. 

Beda dengan pramuka, banyak kegiatan unfaedah menurut saya dulu. Dan ternyata sebenarnya ada manfaat dan makna-makna tertentu. Tetapi tetap saja sampai sekarang saya tak bisa bilang suka pada pramuka. B aja, soalnya kalau mau ngmong benci ga pantes. Kasihan teman saya yang suka pramuka. Saya sendir saja yang malas (dulu).

Balik lagi ke permasalahan dua kegiatan tadi, yang membuat diri ini menjadi sok sibuk. Saya tahu kalau tugas perkuliahan itu penting. Namun yang lebih penting adalah sebuah seni menghargai orang lain. Kenapa sulit untuk memaklumi keadaan, lebih memilih untuk menyalahkan orang lain. 

Ternyata berusaha untuk dapat dihargai itu lebih susah jika kita tak sepemikiran dengan orang lain. Salah satu prinsip yang saya pegang saat ini adalah mengenai “fokus pada diri sendiri” yang berarti bahwa fokus untuk membenahi diri dan berjuang lebih keras karena semua kebaikan serta semua usaha akan kembali pada diri sendiri. Bukan berarti egois. 

Tetapi saya malah menulis tulisan ini, sudahlah wkwk sulit menjadi manusia. Canda, mudah kok, tinggal sat set berbuat baik dan tak merugikan orang lain…. wat wet ga ngurusin hidup orang lain dan sat set wat wet plonga plongo.

Salah satu kekuatan besar yang dimiliki manusia meski banyak yang menyadari namun lebih memilih untuk menolaknya adalah “jangan terlalu berharap” apalagi dengan manusia, dalam konteks ini adalah jangan terlalu berharap untuk dihargai. Namun masih banyak orang yang tak sadar diri.

Dahlah, tulisan ini banyak ruwetnya ya? Ya emang tulisan ini buat menghilangkan keruwetan saya, bukan keruwetan Anda.

Dan apakah hubungan kalimat pertama dengan runtutan tulisan ini? yak, saya masih belum mampu menyambungkan kata-kata yang pas.

Acara organisasi diadakan 3 hari dan saya menginap di tempat acara tersebut. Satu minggu sebelum acara tiap malam selalu tidur larut demi mengerjakan tugas. Selain itu juga membantu kawan-kawan organisasi saya. Ehh, malah dianggep gaserius nugas. Malah dianggap menyepelekan tugas. Haduhhh.

Padahal saya menyempatkan mengnugas disela kegiatan organisasi. Masih saja ada yang ngomong begitu, Iya tulisan ini sedikit curhat, pada layar putih yang terkotori oleh tinta virtual berwarna hitam, dengan keheningan sebagai penikmat tulisan.

Dan semua berakhir dengan baik, meski tak sebaik yang diperkirakan. Seminar magang kelompok diundur. Acara organisasi berjalan lancar. Sudah tak perlu berpikir siapa salah, siapa benar. Hanya berpikir siapa yang bisa berpikir dewasa dan siapa yang tidak. Karena dewasa tak sekedar usia, namun sikap dan pola pikir.

Memang tak semua mahasiswa yang tidak berorganisasi bersikap begitu, mereka dapat menghargai orang lain.

Akhir acara saya menemukan sesuatu dari inti semua keluh kesah ini. Bahwa pasti ada titik dimana kita benar-benar bahagia, entah seberapa besar titik tersebut, atau seberapa lama ia bertahan. Setidaknya terima kasih telah dipertemukan kebahagiaan.  

Terima kasih untuk seseorang yang telah membuat saya berubah, meski dengan cara yang tidak langsung dan begitu menyakitkan untuk dirasa (secara mental). Terima kasih, membuat pemikiran ini terbuka, meski engkau tak mengira.

Menemukan sesuatu yang baru dan lebih bermanfaat setelah kehilangan sesuatu yang pernah sangat diperhatikan dengan sempat dan teramat. 

Lanjutan akan ada di tulisan berikutnya… tentang mengapa awal kalimat dan akhir kalimat ini tertulis hampir sama.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu

Satu Jika kau bertanya kenapa cuma satu? kan kujawab, karena ia juga memilih satu, jika ia berbohong?  biarlah, setidaknya setelah angka satu bukanlah nol, biarlah menjadi dua, karena tidak ada kata kehilangan dikamusku, jika yang datang adalah sendu, biarlah melebur bersama waktu, karena yang gata, adalah mara. "Aka 01-05-22, 10:11 Mojosari, Mojokerto